Rabu, 02 Desember 2009
Pelajaran dari Paman
Sore itu, paman saya yang baru pulang mburuh di perusahaan pengumpul duit negara misuh-misuh gak karuan. Semua penghuni kebun binatang Ragunan kayaknya diabsen satu-satu, kambing cuma numpang lewat macam model catwalk saja dibilang "dasar wedhus...!!!" kok, tapi ya karena kambing betawi jadi gak ngerasa kalau namanya tu wedhus.
Setelah tak rayu-rayu dan tak belai-belai, lho....!!!, akhirnya si paman buka mulut juga....
#:"begini lho le, kakak kelasmu yang baru lulus itu dan ikut mburuh di tempat paman, banyak yang gak punya tata krama sama yang namanya orang tua"
*:"kakak kelas sopo to paman?"
#: "yo bocah sing sekolah di sekolahanmu sekarang itu, masak gak punya unggah-ungguh sama sekali, petentang petenteng koyo raja"
*:"lha emangnya mereka ngapain?"
#:"kowe ngerti to, kalau lulusan sekolahmu itu bakalan dadi babu, ngurusi masyarakat, harusnya kan mereka itu gampang senyum, ramah, punya unggah ungguh, harus kayak mbak-mbak teller bank sing ayu-ayu itu lho (wow, paman doyan daun muda juga ya..... *dikemplang*). Sama yang lebih senior aja ndak bisa menghargai gimana mau jadi pelayan"
*:"lha di sekolah ndak diajari senyam-senyum kok paman!?" (membela almamater....)
#:"lha itu salahnya sekolahmu, cuma mendidik orang jadi pinter doang tapi koyo robot, ga bisa senyum, suka ngeremehin orang lain, gak punya profesionalisme. Kalau gitu terus mana mau masyarakat setor duit. Mending punya anak buah goblok tapi punya tata krama daripada pinter tapi ndak tau bagaimana bersikap."
*:"gimana mau profesional to paman, pas kuliah aja pegawai-pegawai di sekolah juga ndak profesional kok, jadi aku ngelihatnya kalau kayak gitu itu biasa dan wajar terjadi di perusahaan pengumpul duit negara." (ngeles, nyalahin orang lain....hehehehe)
#:"ndak profesional gimana?!"
*:"ya suka ngeremehin mahasiswa, mungkin mentang-mentang kita ndak bayar ya paman. Dosen suka gak masuk tiba-tiba, padahal kita sudah di kampus, gak ontime. Banyak lagi lah paman contohnya"
#:"emang ndak ada yang protes?"
*:"pengennya sih protes paman, tapi ya mau gimana lagi, kita ndak punya bargaining power, lha wong udah bisa sekolah gratis aja udah untung kok. Nanti malah dikira dikasih ati minta ampela."
#:"kok gitu, kalau di tempat kuliah paman di kota pelajar sana, gak kayak gitu, walaupun baju bebas tapi tetap rapi biar kayak profesional katanya, malah ada dosen kalau ndak masuk pas mahasiswa udah di kelas, beliau bakal traktir sekelas, orang hp dosennya bunyi aja bisa dapet donat gratis kok"
*:"enak banget kalau gitu, mahasiswa jadi dihargai dan diajari untuk menghargai orang lain."
#:"ya begitulah seharusnya, mereka belajar ndak hanya dikelas, tetapi selama di kampus mereka belajar, situasi ini ndak hanya antara dosen dan mahasiswa tetapi untuk semua elemen kampus, baik dari pegawai, dosen atau OB sekalipun"
*:"jadi masalah moral to yang bikin paman muntab gak jelas, lha trus aku harus gimana paman biar ndak kayak robot"
#:"kowe kan sudah ngerti mana yang salah dari sistem sekolahmu itu, ya kowe jangan tiru-tiru ikutan yang ndak bener. Biar bisa bersaing dan ndak malu-maluin kalau kerja bareng sama lulusan sekolah lain"
*:"linkungannya beda kok disamain" (ngegrundel dalam hati....!?!)
Setelah sore itu, saya jadi berpikir bahwa lingkungan akan memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter seseorang. Semoga saja orang-orang yang sok idealis itu segera menggantikan kedudukan mereka yang salah, asalkan orang-orang itu ndak malah ikut-ikutan jadi makin ndak bener.
Sabtu, 19 September 2009
Ramadhan, Lebaran yang Kurindukan
Hampir sebulan sudah ibadah puasa wajib di bulan suci Ramadhan dijalani oleh umat muslim di berbagai belahan dunia, tak terkecuali saya. Bulan ini merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan dari Allah, hanya sekadar gembira menyambut datangnya bulan puasa pun kita mendapat pahala apalagi jika bulan ini diisi dengan peningkatan keimanan dan ketakwaan dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Yang saya rasakan justru tidak seperti itu, beberapa tahun belakangan ini sepertinya momen Ramadhan hanya berlalu begitu saja tanpa hingar bingar seperti pada waktu saya kecil dulu.
Pada saat saya sd hingga smp dulu sepertinya Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu, dimana kegiatan keagamaan kental sekali terasa di setiap harinya. Saya dulu bahkan tak pernah absen buka puasa di masjid, shalat tarawih maupun sholat subuh berjamaah di masjid. Masjid tak pernah sepi dari kegiatan, tapi kini yang saya lihat di daerah sekitar saya hanya orang-orang tua saja yang mengisi masjid, anak kecil bahkan remaja sedikit sekali jumlahnya yang mengikuti kegiatan di masjid.
Sepertinya semenjak saya beranjak dewasa, saya mulai kehilangan semangat dalam menyambut hal-hal diatas bahkan untuk hari kemenangan atau Lebaran. Mungkin aktivitas penyebabnya, seingat saya dulu waktu masih kecil kalau bulan puasa banyak liburnya dan aktivitas sekolah dikurangi jamnya. Tetapi sekarang puasa gak puasa, aktivitasnya tetap sama sehingga seperti gak ada bedanya, hanya saja malam hari ditambah dengan kegiatan ibadah sholat tarawih.
Lebaran, kalau dulu selalu ditunggu, dihitung tiap hari masih berapa lama, pokoknya gak sabar nunggu pas hari H. Lebaran merupakan momen dimana seluruh keluarga berkumpul, bercengkrama bareng, seru-seruan bareng lah. Sekarang mungkin karena sudah banyak yang berkeluarga, makanya kalau lebaran mulai sepi banget. Mudik sepertinya cuma jadi kebiasaan saja, kurang bermakna.
"everybody changes but i don't fell the same", lirik lagu ini seperti mewakili apa yang saya rasakan. Semua sudah berubah, waktu tak bisa berhenti atau berputar terbalik, saya harus menerima perubahan ini. Semoga lebaran yang sepi hanya saya yang alami. Selamat Idul Fitri all, mohon maaf lahir batin.
*P.S: postingan sampah, lagi gak konsen, ngereview aja males....hahaha
Kamis, 03 September 2009
Apakah Saya 'Murtad'...??
25 Juli, terakhir kali ngupdate nulis disini, kalau diitung-itung dengan metode penghitungan garis bengkok (lho....!!) berarti udah 40 hari (serius ny ngitungnya, kok pas gitu..). Selama 40 hari berpaling, apakah saya bisa dikatakan sebagai blogger 'murtad'?.
ha...ha...ha...ha..., terlalu dini sepertinya, buktinya saya kembali ke cinta pertama saya lagi, walaupun belum bisa meninggalkan selingkuhan saya 'twetie'. Bahkan saya berusaha mengakurkan mereka biar gak berantem. Buktinya saya mengenalkan si pacar kedua saya ini sama si pacar tua, meskipun sih di kandang pacar tua, si pacar muda mendapatkan sedikit intimidasi yaitu ketidaksingkronan antara kejadian di rumah pribadi si pacar muda dengan yang saya pajang di sini alias updatenya lama banget padahal di rumah si pacar muda, selalu up to date gak pernah telat.
Kalau dibilang 'murtad' atau bahasa halusnya berpaling sih sebenarnya memang benar, saya berpaling dari blog tetapi tidak sepenuhnya hilang, saya cuma mencoba yang lebih simple alias microblog. Tetapi balik lagi ke esensi awal saya memacari 'barang-barang' macam seperti ini adalah sebagai tempat sampah atau mungkin lebih tepatnya media buat 'nyampah', karena saya merasa setahun belakangan ini saya jadi sangat ansos, dari yang tadinya juru kunci kampus sekarang jadi 'kupu-kupu' sejati. Saya butuh media seperti 'pensieve' dimana saya bisa mengeluarkan sebagian isi dari otak saya untuk diganti dengan materi-materi yang lebih penting. Karena saya menyadari bahwa 'hardisk' otak saya memang kecil, sehingga hanya hal-hal penting saja yang seharusnya saya simpan sendiri di otak sedangkan yang lain harus dibuang, dishare dengan yang lain, mengingat kodrat saya adalah sebagai mahluk individu sekaligus sosial.
Melihat, menimbang, alasan diatas maka sebenarnya 'pacar' maupun 'selingkuhan' saya yang lain, merupakan suatu proses dimana saya mencari media mana yang paling cocok atau sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi yang begitu kompleks dan fluktuatif, karena jujur, saya tidak menemukan media itu di dunia nyata saat ini.
Saya ternyata bukan tipe orang yang bisa beradaptasi dengan perubahan yang begitu drastis dengan cepat. Saya tidak bisa menyalahkan diri saya sendiri karena masalah pemikiran dan selera adalah sesuatu yang sangat sulit dirubah secara instant, apalagi jika saya sudah merasa nyaman dengan situasi dan kondisi tertentu. Mungkin saat ini di dunia maya lah tempat yang cocok untuk sekadar 'nyampah', meskipun cuma komunikasi satu arah, tetapi setidaknya saya bisa sedikit merasa 'plong' setelah mengais-ngais sampah, tidak melulu sendiri tetapi mungkin bersama maya-maya yang lain. Inilah pembelaan atas kemurtadan saya....;)
Langganan:
Postingan (Atom)