Minggu, 22 Juli 2012

Bukan 'Apa' tapi 'Siapa'

Melihat foto diatas sepertinya tidak ada yang salah dengan mereka, senyumnya terkembang lebar, pun semangat sepertinya terpancar dari wajah-wajah polos itu, tapi dibalik itu beban seakan terlalu berat untuk mereka tanggung, sendirian.

Berawal dari sebuah surat elektronik yang saya terima Senin (16/7) lalu, beradalah saya hari Sabtu pagi (21/7) di XXI Djakarta Theater untuk nonton bareng film Madagascar 3: Europe's Most Wanted. Madagascar 3...?, ya, film animasi itu yang membuat saya jauh-jauh dari Bintaro menahan kantuk di pagi hari puasa pertama, menempuh jarak cukup jauh yang untungnya hari itu jalan cukup sepi, efek puasa mungkin. Nonton bareng kali ini bukan nonton biasa, sebelum film dimulai penonton sudah dibuat terpingkal-pingkal dengan penampilan atraksi dan badut dari anak-anak binaan Red Nose Foundation. Selama film diputar, Alex dan kawan-kawan sukses mengocok perut semua penonton terutama anak-anak itu. Anak-anak yang pada hari-hari tertentu harus tergolek lemah di ranjang kasur putih dengan infus menancap dan mesin-mesin medis yang tak henti-hentinya memantau perkembangan tubuh mereka. Menyakitkan, ya, bahkan membayangkannya saja membuat saya ngeri, lebih menyakitkan lagi mengingat anak-anak itu datang dari keluarga marjinal, yang secara ekonomi mungkin pas-pasan apalagi biaya operasi dan kemoterapi yang harus rutin dilakukan demi kesehatan buah hati yang tidak sedikit.
anak-anak Red Nose Foundation sedang melakukan juggling
Adalah Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia, YKAKI, yang mengajak mereka berada di XXI Djakarta Theater bersama saya pagi itu, mencoba memberikan sedikit hiburan bagi anak-anak yang tengah berjuang melawan kanker. YKAKI berusaha meringankan beban anak-anak penderita kanker yang salah satunya melalui program Rumah Kita, tempat persinggahan bagi mereka orang daerah yang berobat di Jakarta. Nah, anak-anak yang sedang berada di Rumah Kita inilah yang berkesempatan menonton petualang Alex cs untuk berusaha kembali ke New York melalui tour sebuah kelompok sirkus Eropa. Beberapa anak tertidur pulas dipelukan kursi bioskop yang empuk dan nyaman, mungkin mereka lelah, tetapi banyak dari mereka yang tak henti-hentinya tesenyum, tertawa dan tampak menikmati adegan demi adegan hingga film selesai dengan tepukan tangan dari tangan mungil yang puas. Di akhir acara, XXI Djakarta Theater dengan baik hati memberikan souvenir kepada anak-anak dari Rumah Kita sehingga mereka pulang dengan wajah gembira, semoga tidak hanya hari itu saja. 
Adhi, penderita kanker getah bening, tampak senang dengan mainan barunya :D
Pada saat saya berjalan hendak pulang, Zack, volunteer leader “Count Me In” hari itu berteriak “have a nice day buddy”, saya hanya tersenyum kecil dan berkata dalam hati “I already have it, Zack”. Kalau kata orang bukanlah 'apa' tetapi (dengan) 'siapa' yang bisa membuat sesuatu berbeda, merubah yang biasa menjadi begitu istimewa. Cepat sembuh adik-adikku...!

Senin, 16 Juli 2012

Dolan: Camping Ceria Gn. Papandayan

Dolan, dokumentasi perjalanan, berhubung kemarin 14-15 Juli 2012 "camping ceria" ke Papandayan ada ceweknya, yang saya perkirakan bakal sedikit agak lama jalannya (dan ternyata benar), maka saya putuskan untuk membawa kamera DSLR sendiri, jadi sambil nungguin rombongan bisa jepret-jepret. Dua hari berada di alam untuk sekadar menghirup udara yang lebih segar, merasakan panasnya belerang yang membuat telor pun bisa matang, menatapi ribuan bintang berkelip di langit malam, mengagumi keindahan bunga abadi edelweis yang sedang mekar, untuk selalu bersyukur atas keindahan ciptaanNya yang sangat luar biasa.

ngebul terus, ada raksasa ngerokok di dalem kali ya..?

kawah lagi

pucuk... pucuk...

hutan mati

hutan mati, terkena erupsi tahun 2000-an

edelweis di balik Pondok Salada

bunga abadi, so beautiful...!

hutan mati, diambil dari jalan air Pondok Salada arah Tegal Alun

Pondok Salada, diambil pas trekking ke Tegal Alun via jalan air

edelweis di Tegal Alun

Tegal Alun, alun-alunnya bunga abadi :D

edelweis + langit biru + golden moment = PERFECTO...!

di balik rimbunnya edelweis Tegal Alun

ada yang mau rebus telor?

sekali-kali pake motor atau gowes boleh kali ya
mau pulang, almost fullteam
Pelajaran dari perjalanan kemarin adalah bahwa kejutan-kejutan yang dahsyat bisa saja kita temui di jalur yang tidak biasa. Dari bawah menuju ke Pondok Salada melewati hutan mati itu luar biasa dahsyat jalurnya meskipun tidak lazim, menuju Tegal Alun melalui jalan air yang terlihat dari Pondok Salada itu pemandangan sepanjang jalanannya menurut saya lebih indah, bisa lihat Pondok Salada dari atas, batu-batu besar bekas aliran air, edelweis yang cantik di ujung jalur air. Anti mainstream itu terkadang Luar Biasa....!



note: memastikan lensa kamera bersih sebelum dipakai itu sangat penting daripada menyesal pas sudah dibawah gara-gara foto agak gak beres (curcol) T.T

Jumat, 13 Juli 2012

Jambore Sahabat Anak XVI, Suarakan Impianmu...!

Waktu itu kamu pakai baju merah
Yang ku tahu aku pakai baju putih
Kita bergandengan menyusuri kota
....
....
....

Kita sepakat bila rasa yang sesungguhnya
Tak mudah didapat
Perlu ada pengorbanan, perlu ada perjuangan
Seperti pahlawan

Kita tulis cerita yang takkan kita lupa
Bersama di bawah langit senja
Kita nyatakan saja pada mereka lewat sebuah lagu
....

Bait demi bait lagu di atas mengalun dengan indah di panggung diiringi petikan gitar akustik, ukulele dan tiupan harmonika yang sesekali melengking. Budi Doremi begitu dia dikenal menyanyikan lagu Asmara Nusantara yang mampu membumbungkan angan ribuan orang malam itu, entah apa saja yang mereka lamunkan. Beberapa waktu sebelumnya 7icons mengajak kami semua bernyanyi, berteriak, bergoyang dan berjingkrak-jingkrak dengan lagu-lagu hitsnya. Saat itu saya tidak sedang berada disebuah konser dengan tata lampu yang megah atau acara musik stasiun-stasiun televisi sebagai penonton bayaran yang artisnya kebanyakan lipsing. Malam itu saya berada di depan panggung sederhana berpenerang tiga lampu fluorescent putih ber-watt besar dengan sound yang seringkali sember suaranya. Dibalik semua keterbatasan itu, saya yakin penonton terpuaskan oleh penampilan artis yang sengaja datang sukarela (kabarnya begitu .red) untuk menghibur. Artis-artis seperti 7icons, Budi Doremi, Satrio Alexa dan IndoBeatBox yang biasanya hanya bisa dilihat di layar kaca dan lagu-lagunya mereka nyanyikan setiap hari kini hadir secara eksklusif di depan mata. Tanggal 7-8 Juli 2012 kemarin, saya bergabung dengan 500an volunteer menjadi pendamping bagi sekitar 1000an anak jalan dalam acara Jambore Sahabat Anank XVI, dan hiburan dari artis-artis tadi adalah salah satu rangkaian acaranya.

Selama dua hari penuh saya melihat sisi yang berbeda dari mereka yang biasanya berkeliaran dijalan, mereka yang menyusuri koridor-koridor kereta api, mereka yang dengan gitar lusuhnya menjual suara demi setoran penyambung nyawa keluarga. Siapa sih yang ingin hidup di jalanan, setiap hari bergulat dengan ketidakpastian, kekerasan selalu mengincar, dan nyawa terkadang menjadi taruhan. Bahkan ketika saya tanya kepada salah satu anak, meskipun sehari 'omset' mereka diatas 100rb rupiah (jauh diatas penghasilan saya saat ini), jika mempunyai pilihan mereka lebih menginginkan meninggalkan jalanan. Selama dua hari inilah Jambore Sahabat Anak XVI (JSA XVI) berusaha menghadirkan sesuatu yang berbeda dari kehidupan sehari-hari mereka yang keras.

JSA XVI mengembalikan salah satu hak dasar anak yaitu, bermain, berlari-larian tanpa batas di area Bumi Perkemahan Ragunan yang mana menjadi sebuah kegiatan yang sangat mewah bagi anak jalanan. Acara berlangsung sangat meriah, dihari pertama diadakan debat cilik dengan berbagai tema diantaranya menabung, menyeberang jalan dan jajan. Maksud dari debat ini bukan mencari mana yang benar dan salah, tetapi melatih anak-anak berani mengungkapkan dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu ada juga workshop untuk menggali bakat anak-anak dengan tema menggambar, menulis, musik dan menulis lagu. Di hari kedua adalah harinya games, beberapa games telah disiapkan panitia untuk diikuti setiap peserta. Anak-anak juga berkesempatan mencicipi produk-produk sponsor seperti kopi starbuck, hophop, dan aneka snack yang mungkin belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Canda tawa, senyum ceria tak henti-hentinya terlihat dari bibir mungil mereka meskipun lelah dan beban hidup yang berat tetap terpancar dari sorot matanya yang lugu.

Suarakan Impianmu, tema jambore tahun ini mengharuskan setiap pendamping untuk menggali mimpi adik-adik dampingannya. Mereka anak tak ubahnya anak-anak lain yang mempunyai mimpi dan harapan, mimpi-mimpi yang bagi sebagian orang sangat sederhana ataupun mimpi-mimpi yang tidak saya duga muncul dari pemikiran anak marjinal. Saya ingat sekali sore itu seorang anak perempuan menghampiri saya, “kak, udah mau pulang ya? gak ke kebun binatang ragunan dong kak? aku belum pernah lho ke kebun binatang”. Ingin rasanya saya berlari menggendong gadis kecil itu, membawanya ke kebun binatang yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari tempat kami berdiri saat itu seandainya sore itu masih banyak waktu. Salah satu adik di tenda saya, tenda SMART, mempunyai mimpi menjadi desainer terkenal seperti Tex Saverio, super sekali menurut saya. Saya hanya bisa meyakinkan mereka bahwa mimpi dan cita-cita mereka tak mustahil untuk terwujud, "perlu ada pengorbanan, perlu ada perjuangan" begitu kata Budi Doremi Sabtu malam lalu.

Dua hari yang sangat mengesankan bagi saya bisa mengenal dan berbagi dengan mereka yang sangat luar biasa. Mereka yang butuh perhatian bukan hanya uang tanda belas kasihan. Stop beri mereka uang, jadilah sahabat...!

video salah satu anak (erna) tenda SMART sedang berpuisi, pas versi performance kelompoknya membuat saya harus bersembunyi dibalik kamera karena terharu, sayang belum nemu videonya.

workshop menyanyi dan menulis lagu

tenda SMART, Sanggar Anak Matahari Bekasi

kakak-kakak pendamping narsis sambil hias tenda

narsis lagi

main yuk...! :D

baca puisi Suarakan Impian

hore... aku nemu katanya kak...!

jump...jump... gapai mimpimu...!

KITA BISSAAAA....!

kakak adik mau pulang, almost full team

Minggu, 04 Maret 2012

Reminder

"Dengan keadaan yang telah dilalui, saya tidak mempunyai hak sedikitpun untuk mengeluh, untuk protes atas apa yang sudah digariskanNya."

Menunggu biasanya itu akan menjadi hal membosankan bagi saya, tapi proses menunggu pengumuman penempatan selama kurang lebih lima bulan kemarin memberikan pelajaran sangat berharga. Untuk mengisi masa menunggu kemarin, saya memilih untuk terjun kembali ke dunia volunteer.

Hoshizora Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang didirikan enam tahun lalu oleh pelajar Indonesia yang sedang menempuh studi di Jepang ini menjadi tempat pertama saya memetik pelajaran. Menurut salah satu pendirinya, organisasi ini muncul sebagai imbas atas keprihatinan mahasiswa Indonesia terhadap akses pendidikan di Indonesia dibanding Jepang. Nah, sekitar akhir tahun lalu mereka sedang mengadakan seleksi penerima beasiswa tahun 2012. Tugas saya adalah mewawancarai adek-adek SD-SMA yang telah lolos persyaratan administrasi.

Ratusan kandidat berkualitas dari berbagai sekolah datang dan wawancara. Mereka yang memiliki akses minim ke informasi ilmu yang sekarang bebas tapi masih terasa mahal baginya. Mereka yang ke sekolah harus menempuh jarak berkilo-kilo dengan berjalan kaki atau bersepeda. Mereka yang menangis karena ingin mengubah kehidupan keluarga. Mereka yang diam saja, bingung, karena mungkin lidah sudah terlalu kelu tergantung beban kehidupan yang berat untuk bocah sekecil itu. Mereka yang menganggap bahwa gula adalah sebuah kemewahan. Mereka yang telah kehilangan atau bahkan dicampakkan orang tuanya. Mereka yang tetap berprestasi meskipun dengan fasilitas ala kadarnya. Mereka yang berani menggantungkan mimpinya di langit berbintang. Mereka yang tak saya sangka dengan tegar bisa berkata "Mungkin saya harus berjalan di atas duri untuk terus menjalani hidup, tetapi saya yakin saya bisa sukses tanpa ayah saya".

Mereka inilah yang membuat sadar betapa sangat beruntungnya saya selalu mendapat fasilitas pendidikan yang terbaik, kasih sayang tidak pernah putus dari orang tua dan saudara, perut pun tidak pernah terlalu kelaparan untuk membuat otak mudah menyerap pelajaran. Mereka inilah yang membuat saya rela menempuh jarak puluhan kilometer jauhnya untuk sekadar mendengarkan cita-cita mereka. Mereka inilah yang membuat saya bersemangat ketika mendengar mimpi-mimpi yang luar biasa. Mereka inilah yaang membuat saya berpikir kembali tentang keeksistensian pemerintah.

Tempat kedua adalah 6th Asean Para Games disingkat 6th APG, event ini adalah semacam Sea Games tetapi untuk athlete difabel, athlete dengan keterbatasan mental dan fisik. Di sini saya bertugas sebagai NPC Assistant, Liaision Officer untuk negara Vietnam khususnya cabang renang yang mempunyai job desk mengurusi segala macam yang berkaitan dengan athlete dan official, mulai dari jadwal rapat, pertandingan, makan, transportasi, laundry, dll, intinya membantu mereka sejak datang sampai pulang kembali ke negaranya.

Dulu, saya sering membayangkan betapa suramnya hidup orang-orang difabel. Tetapi hal itu kemudian runtuh setelah saya selama hampir dua minggu hidup bersama mereka. Fisik mereka memang tidak selengkap dan sesempurna saya tetapi semangat hidup dan kemampuan mereka jauh melebihi saya. Pada awalnya saya ragu, dengan fisik seperti itu bagaimana mereka bertanding, dengan mata buta bagaimana mereka bisa bermain goal ball atau catur, dengan kaki tak ada bagaimana mereka bisa bermain tenis dan berenang. Saya hampir menangis melihat salah satu athlete saya, Hiep, penderita paraplegia, yang bentuk tubuhnya hanya terlihat dari tulang rusuk ke atas sisanya hanya tulang terbungkus kulit, ketika dimasukkan ke air begitu gesit dia berenang. "Subhanallah, iki kuasane Gusti Allah" begitu kata salah satu tim sertifikasi.




Job desk saya yang seharusnya membantu mereka menjadi kurang relevan, merekalah yang sebenarnya menolong membuka mata hati saya. Mereka yang membuat saya berpikir untuk menggerakkan kaki, mengulurkan tangan, membuka mata dan telinga yang masih baik fungsinya ini untuk melakukan hal-hal yang besar yang positif. Di akhir event saya merasa menjadi orang paling beruntung bisa mengenal orang-orang hebat seperti mereka, yang bisa saya bantu tanpa harus tahu agama, status, kewarganegaraan atau bahasa ibu apa yang mereka gunakan. Saya beruntung pernah bercengkrama dengan Hiep, Sa ri, Ms. Thuy, Dhung, Mr. Yakuza, dll, mereka orang-orang yang sepintas lalu dalam hidup tetapi mampu mengubah pandangan saya.

Tulisan ini dibuat sampai suatu saat saya mengeluh, jatuh, sombong, congkak saya akan membaca tulisan ini lagi sebagai pengingat diri ini untuk selalu rendah hati, bersyukur atas semua rizki dan tak berhenti untuk terus berbagi.

Minggu, 07 November 2010

07112010


dibawah langit Jakarta, 12:50am

Aku pernah mengalami, ketika bumi sedikit saja bergoyang, seketika itu manusia bagaikan lalat di atas sampah yang diusir secara tiba-tiba. Semua panik, semua mengingat Tuhan, seakan sadar bahwa Dia pemberi nyawa, Dia pencipta alam semesta yang saat itu sedang murka.

Aku pernah melihat, menyaksikan mayat-mayat ditumpuk begitu saja dipinggir jalan ditutup dengan benda seadanya. Bau anyir darah tercium diantara puing-puing bangunan yang berserakan.

Aku masih mengingat, bagaimana seorang ibu menangis tersedu-sedu menceritakan penyesalannya karena tidak sempat menyelamatkan anaknya ketika bencana terjadi.

Aku masih terharu, saat jarak berkilo-kilo meter jauhnya ditempuh, dan lelah terbayarkan oleh tangis mereka, tangis yang merefleksikan rasa terima kasih yang terdalam karena lidah terlalu kelu untuk mengucapnya, hanya karena sedikit mie instant yang kami bawa.

Hatiku ngilu, ketika tangan-tangan mungil itu mengiba meminta sesuatu kepada pengguna jalan yang lalu-lalang membawa bantuan. Mereka saling berebut ketika ada tangan keluar dari mobil mirip anjing lapar diberi makan.

Dan kini bumi kembali murka, tak banyak yang dapat kulakukan, hanya sedikit bantuan saja dari hasil meminta yang mungkin tak cukup berarti bagi mereka. Segenap doa dari lubuk terdalam agar mereka disana diberi kekuatan dan kesabaran.



*untuk Merapi, cepet sembuh mbah...!!!

Rabu, 07 Juli 2010

My 21st Chance


Jakarta, 05 Juli 2010

-Hari berganti seiring sang bulan yang habis ditelan bumi. Waktu terus berlalu dan ia tak mungkin kembali ke masa lalu.-

Kembali merenungi bahwa setiap detik yang terlalui menjadi kisah tersendiri. Awal yang buruk memang jika melihat apa yang terjadi dalam hidup setahun belakangan ini. Bukan resolusi yang terjadi, tapi malah mirip sebuah kemunduran diri. Bukan untuk menyesali tapi hanya memaknai bahwa mungkin awal pondasi yang pahit akan membuat kokoh bangunan ini.

Ya, bangunan kokoh dengan jati diri, mengingat lagi tulisan yang dibuat persis tahun lalu. Sudah saya katakan disitu, memang berat menjalani hidup berkepala dua karena ibarat bangunan disinilah saya benar-benar ditempa menjadi pondasi utama, mau jadi apa hidup saya kedepannya.

Jikalau memang hidup saya belakangan kurang berarti, setidaknya saya mengerti, intropeksi dan segera memperbaiki diri. Mencoba menjadi lebih dewasa dan bukan hanya dianggap tua, mulai memikirkan esok bukan hanya bicara besok. Semoga.

Setidaknya tulisan ini akan saya baca setahun lagi sebagai pengingat saja bahwa hari ini Allah masih memberi kesempatan untuk hambanya ini, kesempatan ke dua satu. Maka sebait doa yang saya kutip dari twitter tempo hari semoga terwujud ditahun ini, "Doaku hari ini: Tuhan, ijinkan aku melakukan hal besar, karena umur yang Kau berikan terlalu penting jika hanya melakukan yang kecil-kecil".



*amburadul gak jelas, idenya melayang kemana-mana. dibuat terpaksa, sebagai pengingat saja, biar gak lupa sudah diberi kesempatan lagi olehNya untuk memperbaiki diri.

Sabtu, 15 Mei 2010

"Kepribadian Ganda"


Kemarin saya membaca artikel di koran nasional, isinya sangat menggelitik, intinya bahwa sulit menarik pajak dari orang kaya. Menurut Ibu Menteri Keuangan yang cantik, cerdas, dan sedikit galak, pegawai pajak kebanyakan minder bila harus mendatangi kediaman wajib pajak kaya itu. Mereka minder hanya karena satpamnya banyak, rumahnya luas atau anjingnya besar-besar.

Disatu sisi dulu sering saya dengar adanya pungutan-pungutan yang terjadi dalam pengurusan dokumen pembayaran pajak, istilah 'kerennya' uang pelicin. Namanya juga uang pelicin yang tidak memberi ya jalannya jadi tidak licin alias seret. Bahasa lugasnya, "gak ada duit terserah gue mau ngerjain kapan".

Ironi memang jika membandingkan dua kondisi diatas. Pada kondisi pertama digambarkan seolah-olah petugas pajak terlalu lemah, tidak punya power untuk menghadapi wajib pajak. Analoginya mungkin seperti tikus yang bertemu nenek moyangnya kucing alias singa, manut-manut saja. Di kondisi kedua, sekarang petugas pajak gantian yang menjadi singa meskipun hanya anak singa tetapi tetap saja membuat tikus ngeri walau hanya mendengar namanya saja.

Sesuatu yang membuat saya heran, kenapa itu bisa terjadi, disatu sisi mereka tampak bergigi tajam, ganas. Tetapi di sisi yang lain seperti kucing yang akan makan ikan yang sudah disediakan tetapi takut gara-gara piring si anjing diletakkan disebelah pirngnya, malu-malu tapi mau. Bisa dikatakan 'berkepribadian ganda'.

Dalam ilmu psikologi, kepribadian didefinisikan sebagai organisasi-organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik/ khas dalam meyesuaikan diri dengan lingkungannya (Allport, 1971). Dari definisi diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tiap-tiap kepribadian itu unik sehingga sulit untuk mengidentifikasinya. Oleh karena itu yang bisa dipelajari hanyalah struktur kepribadiannya. Struktur kepribadian ini dapat diketahui melalui pemeriksaan sejarah hidup, cita-cita dan persoalan-persoalan yang dihadapi seseorang. Jadi kepribadian merupakan sebuah produk dari proses pembelajaran kehidupan seseorang.

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kebanyakan dari aparat pajak adalah output dari sebuah PTK. Tak kurang dari seribu lulusan pertahun PTK ini, ditempatkan dibawah naungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP), sedangkan lulusan dari universitas lain sepertinya jarang, karena Kemenkeu tidak sering membuka lowongan, baru-baru ini saja 2-3 tahun sekali. Sehingga bisa dikatakan bahwa pegawai DJP berasal dari PTK ini. Lalu adakah yang salah dengan sistem pembelajaran di PTK ini, salah siapa?!





*ditulis dibawah langit Jakarta setelah hujan, ditengah kekecewaan saya terhadap sebuah sistem, yang hari ini membuat saya tertahan disini.... sruuuuttttttttt.....srrooottttttttt.... idung saya meler lagi....!!! ^_^

Jumat, 23 April 2010

Siapa?!



saya kecewa dengan mereka,
yang senang bersuara tanpa langkah nyata

saya kecewa dengan mereka,
kerjanya hanya baca buku tanpa ada amalannya

saya kecewa dengan mereka,
asa tinggi hanya sampai di angan saja

saya kecewa dengan mereka,
yang tahu itu salah tapi hanya diam saja

saya kecewa dengan mereka,
yang malah menghindar dari problema

saya kecewa dengan mereka,
yang justru membiarkan kebobrokan membabi-buta

saya kecewa dengan saya,
yang salah berasumsi dalam berlogika

saya kecewa dengan kita,
kenapa mesti dicipta untuk menjaga?

saya hanya mampu bertanya,
kalau bukan kita lalu siapa?!





*sepertinya memang hanya deadline yang mampu membawa kembali nyampah disini, seperti postingan-postingan sebelumnya,,,hehehehe

Rabu, 10 Maret 2010

Kau dan Hot Cappuccino



Jakarta, 10032010, 8" before mid nite


Bubuk kopi yang kuseduh beradu dengan susu memberikan sensasi yang berbeda malam ini, secangkir hot cappuccino. Kehangatannya mengalahkan dinginnya bulir-bulir hujan yang menyapa lembut bumi Jakarta di luar sana. Berbincang denganmu biasanya memberikan semangat baru yang selalu membuatku bergairah. Tapi kini berbeda, rasa itu tak ada, entah kenapa. Apa mungkin dia menghilang seiring hangatnya kopi yang berpaling menjadi datar? Mungkin saja,,,, Akan kubiarkan rasa itu pergi bila memang sudah waktunya, tapi aku meminta satu hal saja malam ini padamu, bebaskan aku, lepaskan aku dari belenggumu, aku bosan denganmu wahai engkau sang makalah Tipikor....



*nyampah ditengah proses finishing sebuah makalah yang telah melewati deadline.

Jumat, 26 Februari 2010

It's [not] about d Committee



Jurangmangu, 26Feb2010, 10" after midnite.



Seketika orang-orang itu bubar membawa kenangan masing-masing tentang sepotong kisah yang mungkin akan bertumpuk entah di memory sebelah mana. Kumpulan orang yang telah bersama selama berbulan-bulan untuk mewujudkan sebuah tujuan. Orang-orang yang membuatku belajar akan sebuah hal.

Aku sebenarnya bukan orang yang apatis, tetapi kepindahanku satu setengah tahun lalu ke lingkungan ini yang mungkin belum bisa aku terima. Saat itu aku masih dihantui bayang-bayang kehidupanku yang lama, yang menurutku cukup nyaman. Aku pernah mencoba keluar dari zona kesendirian, tapi yang kudapat hanyalah kekecewaan karena aku berekspektasi terlalu tinggi.

Pada akhirnya jiwaku memberontak, dia tidak rela ditipu, dia ingin bersosialisasi, hingga aku mencari kegiatan sejenis yang pernah menorehkan kenangan begitu berharga di kampus biru dulu. Ya, aku berada (lagi) di sekumpulan orang yang berusaha menciptakan kompetisi akuntansi yang bertaraf nasional.

Awalnya, aku masih merasa tidak nyaman dengan orang-orang dan situasi yang terasa asing bagiku. Aku masih saja membandingkannya dengan orang-orang hebat di timku yang dahulu. Bayangkanlah, itu sangat menyiksa, ketika harus memulai kembali lagi dari nol. Menyesuaikan diri dan mencoba memahami alur yang berbeda tentang sebuah cerita.

Akhirnya, aku berada disebuah titik tertentu dan menyadari bahwa hidup ini untuk sekarang dan masa depan, bayang-bayang masa lalu hanya akan membuat kita tenggelam dalam kenangan dan semakin terpuruk. Dengan semangat itulah aku mencoba menghibur diri, membuka mata untuk melihat warna-warni bunga di kebun yang berbeda.

Setiap individu memiliki aroma yang khas, sesuatu yang unik, yang tidak bisa saling ditandingkan. Setiap aroma memancarkan auranya masing-masing, tetapi mereka menyatu hingga setiap orang diluar sana bisa mencium satu wangi yang sama tanpa mendikotomikan darimana asal tiap unsurnya. Kami ingin selalu menampilkan wangi yang terbaik bagi orang diluar sana dan tentunya bagi kami sendiri. Aroma yang lain saling menguatkan ketika ada salah satu wangi yang sedang layu atau bahkan mati, karena kita sebuah keluarga yang (pernah) berada di kebun yang sama. Dan ketahuilah, saat ini aku merasa sangat beruntung pernah menjadi bagian kecil dari mereka, yang mungkin tak mengubah wanginya jikalau tak ada, entahlah.

Biarlah sepenggal kisah ini tersimpan sejenak hingga suatu saat terbuka kembali menjadi sebuah kenangan tak terlupakan, bagaikan mentari yang kembali ke peraduannya tapi tak lupa untuk kembali bersinar. Prove it...!!! I'm already miss this committee....

Sabtu, 30 Januari 2010

Sebuah Catatan



Gatot, akronim ini sepertinya lebih dari cukup untuk menggambarkan ujian kemarin. Gagal total dan memang ancur banget menurut saya. Dari delapan mata kuliah, tidak ada satu pun yang saya yakin bisa mengerjakan, bahkan untuk mata kuliah hapalan sekalipun. Sepertinya otak saya baru saja dicuri sebagian atau terdepresiasi karena usia, tapi saya gak mau menyalahkan otak saya yang ilang, berkurang atau dirampok. Lalu salah siapa?! salah emak gue, salah dosen gue, salah temen gue, atau salah burung bapak kost gue, yang pasti bukan salah mereka semua (ya iyalaaahhhhh....!!!). Beberapa hari setelah ujian kemarin saya sempat pulang ke [jogJA]KARTA, sepanjang perjalanan pulang saya berusaha mengevaluasi diri, sebenarnya apa yang salah dengan saya, karena saya percaya kegagalan ujian saya kemarin merupakan kesalahan saya sendiri, sesuai quotes dari salah seorang tokoh "when you think that the problems are out there, stop thinking, the problem is yourself".

Saya yakin, saya sebenarnya mampu, karena menurut saya soal-soal kemarin itu bobotnya tidak lebih berat dibanding dengan semester sebelumnya, bahkan ada beberapa mata kuliah yang karakteristik dan bobot soalnya lebih mudah dengan materi yang sama seperti semester satu. Lalu apa yang membuat saya merasa tidak bisa menyelesaikan tahapan ujian kemarin. Pertama mungkin karena faktor lingkungan, sependek pengamatan saya, teman-teman saya sekelas tampaknya enjoy-enjoy saja dan lancar dalam mengerjakan ujian mid term kemarin. Memang sih kelas saya temasuk kelas dengan anak-anak yang extraordinary (just little 'extra', but it's make wide space from ordinary), tapi tetap saja hal itu bisa berpengaruh terhadap nilai akhir saya. Ibaratnya, bagaimana mau ngatrol nilai kalau yang nilainya 90% aja ada tiga sampai lima orang. Kedua, ujian kemarin saya benar-benar kehabisan waktu untuk sekadar mengerjakan semua soal, padahal di ujian-ujian sebelumnya saya selau punya extra time untuk mengecek kembali jawaban-jawaban, kali ini boro-boro ngecek, selesai aja kagak. Last but not least, saya rasa beberapa dosen saya sekarang adalah orang perfeksionis, it means that everything must be perfect. Lengkaplah sudah penderitaan saya terjebak dalam suasana yang harusnya membangun tapi justru melumpuhkan karena kesalahan saya sendiri.

Let bygones be bygones, that's over. Just little 'extra', sepertinya itu yang harus saya lakukan agar bisa selamat hingga setengah semester ini, syukur-syukur tak perlu berlari di semester genap. Semoga saja, semua sesuai rencana dan konsentrasi dapat berjalan seiring dengan konsistensi.



*** postingan dikala rembulan malu-malu berlindung dibalik awan, sementara alunan musik klasik terus berdendang mengusik malam menuntut sebuah kejelasan. tambah gak jelas lagi kenapa harus ditambahi footnote, biarlah, toh juga blog-blog gw sendiri yang baca juga gw sendiri. whatever lah.... 'makin geje'... sudahlah... biarkan bintang berkelana di kehidupan malam ibu kota.

Kamis, 31 Desember 2009

Gus Dur Menurut Saya



Nyeleneh, mungkin itulah kesan yang saya dapat dari Gus Dur. Saya memang tidak mengenal beliau secara personal, tapi hanya tahu karena beliau sering muncul di tipi-tipi dan kebetulan merupakan Presiden RI yang ke 4. Kiai yang berasal dari Jombang ini memang terkesan nyelelek main-main, omongannya sering terkesan ceplas-ceplos, bahkan saya lebih setuju kalau Gus Dur menjadi pelawak dibanding presiden.

Tapi dibalik pemikirannya yang ekstrem, sepengetahuan saya Gus Dur adalah satu-satunya mantan presiden meninggal tanpa menyisakan kasus/misteri besar untuk diungkap. Saya kagum dengan sifat beliau yang menjunjung tinggi pluralisme, beliau memang seorang muslim yang taat bahkan kiai dengan jutaaan santri, tapi beliau juga tetap menghargai umat beragama lain. Kata Gus Dur "dari sudut akidah, hak orang Islam memang lebih tinggi dari penganut agama lain. Tapi, Indonesia bukan negara Islam".

Masih lekat diingatan saya, pada saat Gus Dur menjadi presiden, sekolah diliburkan selama bulan Ramadhan hingga setelah lebaran. Di sisi lain, Gus Dur juga menjamin warga Tionghoa yang memeluk agama Konghucu untuk beribadah, ini membuat kita semua bisa bebas menikmati atraksi barongsai dimanapun. Berkat Gus Dur pula gaji pegawai negri selalu naik tiap tahunnya. Tak heran jika beliau memperoleh sebutan "prof", bukan profesor tetapi provokator karena Gus Dur memang seorang pendobrak.

Selamat jalan Gus, entah kapan lagi kami mendapat presiden yang humoris sepertimu, dan mungkinkah anak sekolah menikmati lagi libur di bulan Ramadhan atau adakah orang yang berani muncul di depan istana dengan celana pendek diatas lutut. Sepertinya susah, tapi terima sajalah, gitu aja kok repot.

Rabu, 02 Desember 2009

Pelajaran dari Paman



Sore itu, paman saya yang baru pulang mburuh di perusahaan pengumpul duit negara misuh-misuh gak karuan. Semua penghuni kebun binatang Ragunan kayaknya diabsen satu-satu, kambing cuma numpang lewat macam model catwalk saja dibilang "dasar wedhus...!!!" kok, tapi ya karena kambing betawi jadi gak ngerasa kalau namanya tu wedhus.

Setelah tak rayu-rayu dan tak belai-belai, lho....!!!, akhirnya si paman buka mulut juga....
#:"begini lho le, kakak kelasmu yang baru lulus itu dan ikut mburuh di tempat paman, banyak yang gak punya tata krama sama yang namanya orang tua"
*:"kakak kelas sopo to paman?"
#: "yo bocah sing sekolah di sekolahanmu sekarang itu, masak gak punya unggah-ungguh sama sekali, petentang petenteng koyo raja"
*:"lha emangnya mereka ngapain?"
#:"kowe ngerti to, kalau lulusan sekolahmu itu bakalan dadi babu, ngurusi masyarakat, harusnya kan mereka itu gampang senyum, ramah, punya unggah ungguh, harus kayak mbak-mbak teller bank sing ayu-ayu itu lho (wow, paman doyan daun muda juga ya..... *dikemplang*). Sama yang lebih senior aja ndak bisa menghargai gimana mau jadi pelayan"
*:"lha di sekolah ndak diajari senyam-senyum kok paman!?" (membela almamater....)
#:"lha itu salahnya sekolahmu, cuma mendidik orang jadi pinter doang tapi koyo robot, ga bisa senyum, suka ngeremehin orang lain, gak punya profesionalisme. Kalau gitu terus mana mau masyarakat setor duit. Mending punya anak buah goblok tapi punya tata krama daripada pinter tapi ndak tau bagaimana bersikap."
*:"gimana mau profesional to paman, pas kuliah aja pegawai-pegawai di sekolah juga ndak profesional kok, jadi aku ngelihatnya kalau kayak gitu itu biasa dan wajar terjadi di perusahaan pengumpul duit negara." (ngeles, nyalahin orang lain....hehehehe)
#:"ndak profesional gimana?!"
*:"ya suka ngeremehin mahasiswa, mungkin mentang-mentang kita ndak bayar ya paman. Dosen suka gak masuk tiba-tiba, padahal kita sudah di kampus, gak ontime. Banyak lagi lah paman contohnya"
#:"emang ndak ada yang protes?"
*:"pengennya sih protes paman, tapi ya mau gimana lagi, kita ndak punya bargaining power, lha wong udah bisa sekolah gratis aja udah untung kok. Nanti malah dikira dikasih ati minta ampela."
#:"kok gitu, kalau di tempat kuliah paman di kota pelajar sana, gak kayak gitu, walaupun baju bebas tapi tetap rapi biar kayak profesional katanya, malah ada dosen kalau ndak masuk pas mahasiswa udah di kelas, beliau bakal traktir sekelas, orang hp dosennya bunyi aja bisa dapet donat gratis kok"
*:"enak banget kalau gitu, mahasiswa jadi dihargai dan diajari untuk menghargai orang lain."
#:"ya begitulah seharusnya, mereka belajar ndak hanya dikelas, tetapi selama di kampus mereka belajar, situasi ini ndak hanya antara dosen dan mahasiswa tetapi untuk semua elemen kampus, baik dari pegawai, dosen atau OB sekalipun"
*:"jadi masalah moral to yang bikin paman muntab gak jelas, lha trus aku harus gimana paman biar ndak kayak robot"
#:"kowe kan sudah ngerti mana yang salah dari sistem sekolahmu itu, ya kowe jangan tiru-tiru ikutan yang ndak bener. Biar bisa bersaing dan ndak malu-maluin kalau kerja bareng sama lulusan sekolah lain"
*:"linkungannya beda kok disamain" (ngegrundel dalam hati....!?!)

Setelah sore itu, saya jadi berpikir bahwa lingkungan akan memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter seseorang. Semoga saja orang-orang yang sok idealis itu segera menggantikan kedudukan mereka yang salah, asalkan orang-orang itu ndak malah ikut-ikutan jadi makin ndak bener.

Sabtu, 19 September 2009

Ramadhan, Lebaran yang Kurindukan



Hampir sebulan sudah ibadah puasa wajib di bulan suci Ramadhan dijalani oleh umat muslim di berbagai belahan dunia, tak terkecuali saya. Bulan ini merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan dari Allah, hanya sekadar gembira menyambut datangnya bulan puasa pun kita mendapat pahala apalagi jika bulan ini diisi dengan peningkatan keimanan dan ketakwaan dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Yang saya rasakan justru tidak seperti itu, beberapa tahun belakangan ini sepertinya momen Ramadhan hanya berlalu begitu saja tanpa hingar bingar seperti pada waktu saya kecil dulu.


Pada saat saya sd hingga smp dulu sepertinya Ramadhan adalah bulan yang paling ditunggu-tunggu, dimana kegiatan keagamaan kental sekali terasa di setiap harinya. Saya dulu bahkan tak pernah absen buka puasa di masjid, shalat tarawih maupun sholat subuh berjamaah di masjid. Masjid tak pernah sepi dari kegiatan, tapi kini yang saya lihat di daerah sekitar saya hanya orang-orang tua saja yang mengisi masjid, anak kecil bahkan remaja sedikit sekali jumlahnya yang mengikuti kegiatan di masjid.

Sepertinya semenjak saya beranjak dewasa, saya mulai kehilangan semangat dalam menyambut hal-hal diatas bahkan untuk hari kemenangan atau Lebaran. Mungkin aktivitas penyebabnya, seingat saya dulu waktu masih kecil kalau bulan puasa banyak liburnya dan aktivitas sekolah dikurangi jamnya. Tetapi sekarang puasa gak puasa, aktivitasnya tetap sama sehingga seperti gak ada bedanya, hanya saja malam hari ditambah dengan kegiatan ibadah sholat tarawih.

Lebaran, kalau dulu selalu ditunggu, dihitung tiap hari masih berapa lama, pokoknya gak sabar nunggu pas hari H. Lebaran merupakan momen dimana seluruh keluarga berkumpul, bercengkrama bareng, seru-seruan bareng lah. Sekarang mungkin karena sudah banyak yang berkeluarga, makanya kalau lebaran mulai sepi banget. Mudik sepertinya cuma jadi kebiasaan saja, kurang bermakna.

"everybody changes but i don't fell the same", lirik lagu ini seperti mewakili apa yang saya rasakan. Semua sudah berubah, waktu tak bisa berhenti atau berputar terbalik, saya harus menerima perubahan ini. Semoga lebaran yang sepi hanya saya yang alami. Selamat Idul Fitri all, mohon maaf lahir batin.



*P.S: postingan sampah, lagi gak konsen, ngereview aja males....hahaha

Kamis, 03 September 2009

Apakah Saya 'Murtad'...??



25 Juli, terakhir kali ngupdate nulis disini, kalau diitung-itung dengan metode penghitungan garis bengkok (lho....!!) berarti udah 40 hari (serius ny ngitungnya, kok pas gitu..). Selama 40 hari berpaling, apakah saya bisa dikatakan sebagai blogger 'murtad'?.


ha...ha...ha...ha..., terlalu dini sepertinya, buktinya saya kembali ke cinta pertama saya lagi, walaupun belum bisa meninggalkan selingkuhan saya 'twetie'. Bahkan saya berusaha mengakurkan mereka biar gak berantem. Buktinya saya mengenalkan si pacar kedua saya ini sama si pacar tua, meskipun sih di kandang pacar tua, si pacar muda mendapatkan sedikit intimidasi yaitu ketidaksingkronan antara kejadian di rumah pribadi si pacar muda dengan yang saya pajang di sini alias updatenya lama banget padahal di rumah si pacar muda, selalu up to date gak pernah telat.

Kalau dibilang 'murtad' atau bahasa halusnya berpaling sih sebenarnya memang benar, saya berpaling dari blog tetapi tidak sepenuhnya hilang, saya cuma mencoba yang lebih simple alias microblog. Tetapi balik lagi ke esensi awal saya memacari 'barang-barang' macam seperti ini adalah sebagai tempat sampah atau mungkin lebih tepatnya media buat 'nyampah', karena saya merasa setahun belakangan ini saya jadi sangat ansos, dari yang tadinya juru kunci kampus sekarang jadi 'kupu-kupu' sejati. Saya butuh media seperti 'pensieve' dimana saya bisa mengeluarkan sebagian isi dari otak saya untuk diganti dengan materi-materi yang lebih penting. Karena saya menyadari bahwa 'hardisk' otak saya memang kecil, sehingga hanya hal-hal penting saja yang seharusnya saya simpan sendiri di otak sedangkan yang lain harus dibuang, dishare dengan yang lain, mengingat kodrat saya adalah sebagai mahluk individu sekaligus sosial.

Melihat, menimbang, alasan diatas maka sebenarnya 'pacar' maupun 'selingkuhan' saya yang lain, merupakan suatu proses dimana saya mencari media mana yang paling cocok atau sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi yang begitu kompleks dan fluktuatif, karena jujur, saya tidak menemukan media itu di dunia nyata saat ini.

Saya ternyata bukan tipe orang yang bisa beradaptasi dengan perubahan yang begitu drastis dengan cepat. Saya tidak bisa menyalahkan diri saya sendiri karena masalah pemikiran dan selera adalah sesuatu yang sangat sulit dirubah secara instant, apalagi jika saya sudah merasa nyaman dengan situasi dan kondisi tertentu. Mungkin saat ini di dunia maya lah tempat yang cocok untuk sekadar 'nyampah', meskipun cuma komunikasi satu arah, tetapi setidaknya saya bisa sedikit merasa 'plong' setelah mengais-ngais sampah, tidak melulu sendiri tetapi mungkin bersama maya-maya yang lain. Inilah pembelaan atas kemurtadan saya....;)

Sabtu, 25 Juli 2009

Seandainya Saya [masih] Disana



Lama juga gak ngeblog, bahan sebenarnya banyak, apa lagi kemarin sempet pula liburan singkat di Jogja, tetapi untuk mengolah menjadi sebuah tulisan siap saji (macam opor ayam aja) rasanya muales buangeeettt... (lebay mode: on). Selain penyakit males yang sangad, sebenernya saya tetep nulis tapi lebih kepada microbloging alias update 'twitter' doang, niat awalnya sih twitter sebagai platform, ide cerita, dari postingan di sini tapi ya itu 'lazy crazy boy' lagi kunjungan kenegaraan,,,,hahahaha.

Hari ini tepat dua minggu saya kembali ke Jakarta setelah liburan selama seminggu, dikit lebihnya, di Jogja. Seminggu merupakan waktu yang lumayan untuk sekadar 'bernostalgila' mengingat sering juga saya pulang. Tapi dua minggu terasa lama sekali saat menghabiskan waktu di Jakarta, rasanya pengen pulang terus.

Kalau boleh berandai-andai nih, pengen deh punya pemutar waktu kayak yang dipake Hermione di cerita Harry Potter. Jadi bisa menjalani dua kehidupan diwaktu yang sama. Misalnya ny kayak kemaren pas mama telpon, "mas, adek menang debat Inggris [lagi] lho..!! trus ny mama papa lagi ditraktir, kamu beli makan yang enak sana tar duitnya diganti adek". what...!!! Kalau niat makan enak mah tiap hari juga bisa, kan beda rasanya makan sendiri trus duitnya diganti sama makan bareng-bareng trus dibayari walaupun judul besarnya ditraktir tapi 'fell'nya tetep beda.

Ada juga tuh, temen-temen SMA pada mau reunian besok tanggal 8 Aug. Nyesel juga sih gak bisa ikut padahal saya juga ikut urun rembug masalah kumpul-kumpul itu. Alasan saya gak bisa dateng coz tu kan deket-deket ujian, dan kebiasaan dosen kayaknya belum berubah, banyak kosong diawal, stripping menjelang ujian. Minggu depan aja udah mulai menunggu kuliah pengganti dan tugas-tugas yang tiba-tiba menggantung kayak belatung,,,:: Mana bisa saya pergi meskipun cuma sebentar. Kayak begini ny akibatnya kalau kuliah jadwalnya paling nyleneh, yang laen libur yang sini kabur,,,hahahaha.

Belom lagi, saya ngiri deh ama temen-temen kampus saya dulu yang saat ini lagi sibuk-sibuknya ngurusin ospek alias SIMFONI, susana kepanitiaanya tu bikin enjoy, meskipun harus rapat berjam-jam, muter-muter kesana-sini lah, tapi seneng, seru plus asik aja gitu. Di kampus saya sekarang pun sebenarnya juga lagi pada ribet daftar panitia buat ngurusin ospek tapi saya males jadi panitianya, lha wong jadi peserta aja saya gak excited banget kok, menurut saya terlalu gimana gitu.

Tapi sayangnya itu cuma andai-andai saya. Saya cuma muggle biasa, bahkan tongkat sihir saja saya tidak punya, apalagi kenal sama Prof. Dumbledore buat pinjem pemutar waktu, itu hanya mimpi belaka. Akhirnya saya hanya bisa memilih, karena hidup itu adalah pilihan dan hidup terlalu singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah oleh karena itu saya memilih di sini sekarang, semoga ini merupakan pilihan yang terbaik buat saya. Sekian (macam pelem taon gak enak .:).



*untuk mengusir gundah gulana hati saya, menu diet malam ini adalah 'gultik' Bulungan. Selamat malam minggu semua.
'gultik' gosipnya gulai tikus tapi itu kagak bener, yang bener gulai tikungan,,,, hahahaha

Senin, 06 Juli 2009

Orang Jawa yang Selalu 'Untung'



Kemarin terjadi kecelakaan antara kereta api Prameks (Prambanan Ekspres) dengan sebuah mini bus di daerah Ceper, Klaten. Kecelakaan itu setidaknya menewaskan 16 warga Sragen, penumpang mini bus yang sedianya akan mengantar salah satu warganya menikah. Diantara para korban ada sebuah keluarga yang hanya tersisa dua orang sementara tiga lainnya tewas. Ketika ada media yang mewawancara, keluarga yang ditinggalkan berkata "masih untung mas, saya dan salah satu anak saya bisa selamat".

Kalau dilihat dari ilmu matematika ataupun akuntansi, sebenarnya bapak itu rugi. Mau untung dari mana orang tadinya keluarganya lima sekarang cuma tinggal dua kok dibilang untung, untung dari Hongkong. Kalau dilihat dari ilmu psikologi (bener ga ya, cmiiw), bapak tersebut sebenarnya hanya berpikiran positif. Beliau bersyukur karena dua lebih baik daripada tidak ada meskipun tidak lebih baik dibanding lima.

Sependek pengetahuan saya, orang Indonesia, Jawa khususnya, entah cuma karena latah atau memang tulus dari hati, selalu mengucap kata 'untung' dihampir setiap kejadian buruk yang dialami. Misalnya orang yang jatuh dari motor seringkali ngomong "untung cuma motornya yang lecet" kalaupun tangannya patah, "untung kakinya ga kenapa-kenapa". Pokoknya berapapun besarnya kerugian tetapi tetap untung. Mungkin hal ini pula yang menyebabkan orang jawa banyak yang namanya "untung" atau " bejo".

Kata dosen saya dulu, orang jawa itu 'hobinya' nrimo. Sifat ini nular juga ke mahasiswa yang kuliah di jawa, Jogja khususnya, sehingga biasanya kalau sudah lulus, ketika sedang wawancara mencari kerja dan ditawari mau gaji berapa, seringkali mereka 'plongah plongoh' bingung. Kalau dilihat sih memang kelihatan sangat santun, tapi sisi lainnya jadi gak punya bargaining power gitu alias kelihatan kurang pede. Mungkin ini efek dari 'nrimo' tadi, fifty percent from five is better than a hundred percent from zero, gitu lah mungkin kira-kira istilahnya.

Susah sebenarnya untuk selalu berpikiran positif. Menyadari bahwa dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Memang baik kalau kita selalu melihat keatas sebagai motivasi dalam menjalani hidup, tetapi sesekali kita juga perlu untuk melihat ke bawah agar kita bersyukur atas nikmat yang sudah diberikan. Memang 'nrimo' itu baik tetapi kalau bisa diusahakan lebih baik kenapa tidak. Ya to?

Minggu, 05 Juli 2009

I'm Twentieth



Apa yang terlintas di kepala kamu ketika pertama kali mendengar atau melihat angka 20 ataupun kata duapuluh. Gimana kalau itu berhubungan dengan usia. Apakah kamu langsung kepikiran sama Jim Morrison, Kurt Cobain, Jimi Hendrix, dan Heath Ledger para legend yang mati di usia kepala dua, tepatnya 27-an atau Mark Zuckerberg, Yoris Sebastian, Steve Jobs yang sudah meniti kesuksesan sejak usia duapuluhan. Apapun yang ada di otak kamu, yang jelas "I'm twentieth right now". Artinya ini kesempatan ke dua puluh gw menjalani hidup di dunia. Bisa juga diasosiasikan gw sudah menjalani sepertiga hidup jika diambil rata-rata umur manusia adalah enam puluh tahun.

Bagi gw sendiri, memasuki kepala dua berarti mulai saat ini gw bisa dibilang sebagai seseorang yang dewasa, seseorang yang bertanggung jawab atas apa telah yang dilakukan. Dewasa berarti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang harus dihindari, berorientasi dan bertujuan hidup yang jelas dan terukur tetapi menyadari bahwa tujuan hidup bukanlah ambisi tetapi sebuah jati diri. Ketika gw sudah menemukan jati diri gw, maka itulah diri gw sendiri. Untuk itulah gw hidup.

Diusia kepala dua, menurut gw adalah momentum dimana perubahan-perubahan besar dalam hidup bakal terjadi. Bila semuanya lancar maka mungkin gw bakal menjadi wisudawan, bekerja, berumah tangga, beranak pinak (macam kucing aja), dll. Di masa ini, semua ilmu dasar kehidupan yang telah didapat diaplikasikan untuk membangun pondasi. Pondasi yang bakal menopang sebuah bangunan kehidupan. Pondasi yang kuat akan menciptakan bangunan yang kuat pula. Bangunan itu nantinya tidak perlu mewah, tetapi gw hanya ingin bahwa setiap bata yang diletakkan untuk membangun didasari atas rasa cinta, kejujuran dan kerja keras, sehingga setiap orang yang memandang bakal langsung mengenali bahwa itu adalah bangunan gw, karena gw, beda.

Finally, goodbye 'teen' with all crazy think that I did and welcome 'tieth' with all challanges that always waiting me. Make sure that everything is done when you make it done. Because life is meaningful.

Senin, 29 Juni 2009

Kuliah Ngirit Hasil Selangit



Buat yang masih bingung kuliah dimana, buat yang pengen kuliah tapi duit pas-pasan, buat yang bosen kuliah di tempat yang sekarang. Sekolah kedinasan macam IPDN, STPN, STTD dan kawan-kawan bisa menjadi alternatif pilihan. Tetapi khusus buat siapa aja yang pengen dapet tambahan belajar ternak kambing (just other side:.), hanya ada di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara alias STAN (gak pake E, tar bikin takut anak2,hehehe). Buat masukan aja, gw punya beberapa pertimbangan tentang STAN


1. Gratis. Ini yang pertama dan yang paling utama bagi pertimbangan banyak orang. Kata para alay, hari gini siapa sih ya ng gak mau barang gratis (ngomongnya sambil mulut monyong ke mana-mana). STAN emang sampai saat ini free of charge alias gretongan. Buku pelajaran juga dipinjemin trus dikasih buku tulis juga. Jadi bisa dibilang kuliah di STAN cuma butuh dana buat hidup doang, dan itu jumlahnya gak banyak coz di sekitar STAN tarif segala sesuatu relatif murah, hampir sama lah kayak di daerah.

2. Dapet kerja. Di jaman serba susah ini dimana perekonomian dunia sedang lesu, berimbas juga pada lapangan pekerjaan yang semakin terbatas. Biasanya kalau kuliah kan orientasi kedepannya cari kerjaan, nah di STAN udah langsung dapet kerja di lingkungan Depkeu dan sekitarnya. Isu yang beredar kalau saat ini STAN udah gak ikatan dinas lagi belum terbukti, dan sampai lulusan tahun lalu masih ditempatkan. Kalian pikir aja deh, Depkeu itu paling jarang buka lowongan, paling lima tahun sekali, itupun yang daftar banyak banget dan pada rusuh (pengalaman pribadi). Setiap tahun kan pasti ada pegawai yang pensiun, nah penggantinya itu kebanyakan dari STAN, itu juga yang menyebabkan kuota penerimaan selalu berbeda-beda tiap tahunnya. Jadi kalau kalian pengen kerja di Depkeu dan sekitarnya, STAN bisa jadi alternatifnya, kan belum tentu kalau kuliah di tempat lain pas lulus, pas kebetulan pula lagi ada lowongan. Take a chance when you can.

3. Gak perlu gaya. Pernah gak masuk kampus trus bingung dikira nyasar ke mal. Kalau di kampus laen (baca:kampus gw yang lama), kan baju berkerah bebas rapi tuh, liat deh dandanan anaknya, cewek khususnya, pasti kayak mau ke mal alias modis abis. Di satu sisi sih enak dilihat, gak monoton, tapi di sisi lain boros karena harus punya beberapa potong pakaian, gak mungkin kan ke kampus pake baju itu-itu aja. Di STAN gak bakalan dah ada yang kayak gitu, semua seragam, atasan kemeja warna cerah bawahan celana/rok bahan gelap, cukup satu stel pakaian bisa dipakai seminggu, cucinya pas weekend atau kalau males bisa sebulan kagak dicuci (bukan gw banget), itu juga kalau temen-temen lo gak pada komplain sama bau apeknya. Bahkan kalau spesialisasi Bea Cukai dikasih seragam.

Itu di atas menurut gw adalah segi baik-baiknya, nah selanjutnya ini perbandingan dengan jurusan sejenis di kampus kerakyatan di Jogja sono alias pengalaman gw pribadi.

4. Gw pernah baca tulisan di internet yang intinya bahwa dosen di STAN hebat-hebat alias pendidikannya tinggi trus orang penting pula. Kalau dibandingin sama tempat gw dulu jauh lah, disana doktor semua cing, nah kalaupun baru S2 pasti dari luar negeri trus pasti lagi nungguin beasiswa doktor. Di STAN doktor cuma dikit aja bangga.
Trus kalau di sono, dosennya profesional, gak ganti-ganti jadwal seenaknya, trus kalau ditanyai materi yang "advance" gitu, jawabnya mantep, jelas dan ilmiah coz dosennya capable semua. Kalau di sini, baca dah tulisan gw sebelum-sebelumnya.

5. Kuliah di sono hasilnya (baca:penghasilannya) bisa lebih tinggi bisa lebih rendah alias rangenya lebar. Misalnya ada yang lulus jadi tukang tambal ban tapi ada juga yang jadi direktur perusahaan. Di sini hasilnya hampir sama lah alias rata2 menengah kalau di masyarakat kita, secara PNS di Depkeu dan sekitarnya gitu (amien....). Kalau kalian risk taker atau pengen buka usaha aja abis lulus, mendingan sih di UI atau UGM, tapi kalau kalian pengen jadi pegawai, mending ke STAN aja dech.

6. Fasilitas. Kalau bicara fasilitas emang di sini jauh banget, wifi baru dipasang tapi masih lemot banget. Kelas juga kadang ber-AC dingin kadang cuman jadi ACesoris, LCD terbatas pa lagi CCTV buat keamanan, cuma satu kalau gak salah. Kalau di sana, sambil kencing juga bisa konek, trus AC, LCD, komputer merupakan standar tiap kelas, setiap tempat bisa buat narsis karena banyak CCTV.

7. Kuliah di sini cuma sepuluh bulan per tahunnya, 16 pertemuan alias 16 minggu tiap semester ditambah UTS dua minggu, habis minggu ke-8, sama UAS di akhir, sisanya libur, kayak SMA gitu dah pelajaran udah ditentuin, tinggal kuliah, ujian trus libur. Kalau di sono kan ada minggu tenang sebelum UAS trus ada SP trus pake ngisi KRS pula.

8. Setiap ujian sehari cuma satu, jadi belajarnya bisa lebih konsen, gak kayak di sono ujian kadang bisa tiga sekalian kadang pake libur segala.

Tulisan ini hanya pandangan gw semata, yah berbagi pengalaman lah coz gw dulu juga bingung antara ninggalin Akuntansi UGM yang udah setahun lebih atau Akuntansi STAN yang notabene mulai lagi dari awal. Tapi melalui petunjuk-petunjuk Allah dan orang tua serta hasil pemikiran jernih tentang ekspektasi masa depan dan mengesampingkan kenyamanan jangka pendek, maka gw memilih di sini sekarang dengan segala kekurangannya serta terus berharap semoga berjalan sesuai dengan rencana,amien....:)



*NB: kalau mau daftar STAN klik www.stan.ac.id btw pra pendaftaran di undur tutupnya sampai tanggal 7 Juli coz servernya sering error.

Poem from Jogja



Angin malam yang semilir menyapa aku malam ini
Bulan sudah setengah perjalanan menerangiku dengan cahayanya yang sempurna
Ribuan bintang menyebar di luasnya cahaya malam
Entah mengapa mataku sulit terpejam
Begitu berat bagiku untuk melewati malam yang begitu indah ini hanya dengan meringkuk di balik selimut
Sayang rasanya jika aku harus melepaskan pelukanmu yang begitu hangat,
pelukan yang selalu menyambutku ketika aku pulang
Perubahan demi perubahan tak mampu menggoyahkan diriku untuk mencari pengganti yang lain
Mungkin aku memang mendua tetapi mereka takkan mampu menyaingi pesonamu
Pesona yang membuatku nyaman dan ingin selalu kembali
I'll go back just to see you